Kotbahuntuk kematian; Penghiburan dari Roma 8, 35-39. Keluarga [yang] .berduka yang kekasih, Kami berdiri disini hadir dari persekutuan di jemaat kita untuk mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya anak saudara dalam keluarga ini. Kami hadir untuk menjadi penghiburan kepada ibu, bapak dan semua keluarga yang sedang berduka sekarang. Kita seperti mereka, akan dapat menanggung kesukaran apa pun dengan iman kepada Yesus Kristus. Iman ini juga memberi kita pengharapan untuk suatu saat ketika “dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.” 7. Iman saya sendiri berawal setelah suatu masa duka. Ayah dan ibu saya adalah peternak domba di Selandia Baru. 8 Mereka menikmati hidup Bagipara pengikut keluarga Nabi, hari itu adalah hari dukacita, hari berkabung, bukan hari bersyukur. jika kita meneteskan air mata karena mengenang akan kematian seorang pemimpin sejati dari cucu Rasulullah SAW yang dibunuh secara tragis, maka boleh2 aja selama tidak ada melakukan pelanggaran syari’at seperti acara ritual yang mereka Ditengah dukacita yang dalam, Ia melakukan penelitian terhadap 300 orang dan menemukan bahwa 65 persen dari mereka mengatakan bahwa kematian ayah sangat mempengaruhi kehidupan mereka, melebihi kehilangan hal-hal lain. air mata adalah karunia yang diberikan Allah untuk melipur lara, apabila kita harus kehilangan seorang ayah --David KematianYesus di kayu salib benar-benar menjadi tragedi bagi mereka. Tiga hari lamanya mereka berduka. Tetapi dukacita berubah seketika menjadi sukacita tatkala Yesus bangkit dari alam maut. Kebangkitan mengubah segalanya. Salib bukan lagi tragedi melainkan kemenangan. Bagi Paulus, salib justru adalah “kemuliannya” (Gal. 6:14). Padatahun 1991, seorang gitaris terkenal asal Inggris, Eric Clapton, sangat berduka ketika putranya Conor yang berusia empat tahun tewas karena terjatuh dari jendela apartemennya. Sebagai sarana untuk menyalurkan dukacitanya, Clapton menulis syair lagu dengan nada kesedihan yang mendalam: "Tears in Heaven". RkZjY. Oleh Agape Ndraha, staf Sekolah Athalia “Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah kalimat penghiburan yang sering terucap. Apakah orang percaya tidak seharusnya bersedih ketika menghadapi kematian orang yang dikasihi? Bagaimanakah seorang beriman seharusnya menghadapi dukacita? Sejak masa Perjanjian Lama sebenarnya sudah dikenal tradisi ratapan ketika seseorang meninggal. “Kemudian matilah Sara…lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya Kejadian 232. Penelitian empiris dalam dunia psikologi menemukan bahwa seorang yang mengalami kehilangan akan lebih mampu mengatasi dukacitanya bila kepedihan hati diberi ruang dan dibiarkan berproses baca artikel berjudul “Memahami Dukacita”. Kehilangan bukanlah peristiwa sehari-hari yang bisa dihadapi dengan hati ringan, karena hidup tidak lagi sama. Maka wajar bila kita berduka. Dalam Roma 1215, Rasul Paulus menulis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus mengetahui bahwa dalam kondisi tertentu dukacita tidak bisa dihindari dan menangis adalah respons natural. Orang percaya diperbolehkan menangis. Orang percaya juga diminta untuk menopang mereka yang berduka, dengan cara menangis bersama mereka. Di sisi lain, Paulus mengingatkan bahwa dukacita orang beriman berbeda karena orang Kristen memiliki harapan. “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui mengenai mereka yang meninggal, supaya kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” 1 Tesalonika 413. Dalam teks asli Alkitab, Paulus menggunakan kata yang bermakna “tertidur” untuk menggambarkan seseorang yang telah meninggal. Paulus ingin menekankan bahwa orang percaya hidup dalam penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Mereka yang meninggal tidak hilang begitu saja, melainkan akan dibangkitkan kembali saat Yesus datang, bagai orang yang sedang tertidur kemudian akan bangun kembali. Bila saat itu tiba, kita akan bergabung bersama mereka dan tinggal selamanya bersama Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Paulus tidak mengabaikan atau menyangkal kebutuhan akan ruang untuk emosi negatif. Paulus menekankan bahwa kematian bagi orang Kristen bersifat sementara. Tak seharusnya orang Kristen berduka tanpa batas. Dukacita orang Kristen adalah duka yang diwarnai oleh harapan. Ketika orang Kristen memahami bahwa kematian orang percaya berarti dia pulang kepada Bapa, maka di tengah dukacita tetap terpancar harapan yang memberi penghiburan sejati. Yang sering kali menjadi persoalan adalah cara kita memandang kehidupan ini. Di manakah fokus kita? Bagi Paulus, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Namun, jika dia harus hidup di dunia ini, itu berarti bekerja memberi buah Filipi 121. Paulus menjalani hidupnya sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan harus diisi dengan bekerja bagi Kristus. Dia menyadari bahwa hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Kristus. Oleh karena itu, pulang ke rumah Bapa dan berada bersama-sama Dia dalam kekekalan adalah hal yang dirindukannya. Dalam buku Grief Obeserved, Lewis melukiskan bahwa seseorang bisa dengan santai terlibat dalam permainan menyusun kartu bridge hingga setinggi mungkin… satu demi satu kartu disusun ke atas diselingi tawa dan canda di antara yang bermain bersama. Suasana akan berubah drastis ketika seseorang harus bermain dengan mempertaruhkan nyawanya atau nyawa orang yang dikasihinya. Setiap kesalahan kecil yang dibuat akan menyebabkan tumpukan kartu jatuh dan konsekuensi fatal terjadi. Demikian juga kita sering kali tidak sungguh-sungguh serius menghadapi hidup. Lewis menuliskan bahwa seseorang memang kadang harus mengalami kejatuhan fatal agar bisa menemukan akal sehatnya. Jadi, bila saat ini kita menghadapi dukacita atau bergumul bersama mereka yang sedang berduka, mungkin ini momen yang dianugerahkan bagi kita untuk berhenti sejenak dan merenung… “Apa sebenarnya hakekat hidup ini?” Dalam jurnal yang berjudul “Saint Paul’s Approach to Grief Clarifying the Ambiguity”, R. Scott Sullender, seorang psikolog, penulis buku, sekaligus profesor di sebuah seminari, menuliskan bahwa dalam konteks dukacita, tiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosinya. Namun, dalam proses itu kita membutuhkan struktur sehingga bisa mendapatkan jeda dan penghiburan yang kita butuhkan. Struktur itu bisa kita temukan misalnya dalam ritual ibadah dan pemahaman doktrin agama. Sebagai contoh, iman akan menimbulkan kebutuhan untuk berelasi dengan Tuhan walau mungkin hanya dengan berdiam diri dan menangis dalam doa. Pemahaman doktrinal akan membuat seseorang mulai mampu berdialog dengan diri sendiri atau mungkin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan untuk mendapatkan peneguhan iman. Ritual ibadah juga akan memberi struktur yang serupa sehingga seseorang tertuntun dalam mengelola dukacitanya lihat five stages of grief dalam “Memahami Dukacita”. Kisah Ayub adalah contoh penggambaran keterpurukan seseorang akibat dukacita yang mendalam. Bahkan, Ayub berkata lebih baik dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini Ayub 310-11. Dalam kepedihan hati dan kesakitan fisik, Ayub meneriakkan begitu banyak pertanyaan, bahkan menggugat Allah karena dia tidak paham alasan Tuhan menimpakan banyak musibah kepadanya. Dengan jujur Ayub mengungkapkan emosinya dan Allah membiarkannya. Namun dalam ayat-ayat yang begitu panjang dengan keluh kesah terlihat bagaimana Ayub tidak lari dari imannya pada Tuhan. Iman yang tak meredup membuat dia mengejar Tuhan untuk menemukan jawaban. Di akhir kisah Ayub, kita tahu bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub, tetapi memberi respons yang sesungguhnya dibutuhkan Ayub. Dia membuka pengertian Ayub dan memberi diri-Nya dikenal hingga Ayub pun berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ayub bertumbuh melalui penderitaan karena iman. Bukan ketika kondisinya dipulihkan Tuhan, melainkan ketika dia bisa memandang Tuhan dengan pemahaman yang sejati. Iman menjadi mitigasi yang menghibur dan menguatkan dalam dukacita dan memberi jeda yang melegakan saat kita mengalami naik turun badai emosi. Sungguh sebuah eureka rohani ketika akhirnya kita bisa klik dengan apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui berbagai misteri kehidupan. Dalam pelayanannya, Paulus beberapa kali menunjukkan pentingnya penghiburan di antara sesama orang percaya. Hal itu dilakukan dengan beberapa Paulus memberi dasar pengertian yang benar mengenai natur dukacita, yaitu bahwa dukacita orang Kristen adalah sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang. 2. Paulus mendorong agar sesama orang percaya menghibur dengan kata-kata yang memberi pengharapan dalam pengetahuan tentang kebenaran. 3. Paulus menekankan pentingnya interaksi langsung antarsesama orang percaya dalam memberi penghiburan. Ketika sedang berbeban berat, Paulus sendiri merasakan bagaimana kunjungan Titus dan Timotius sangat menguatkan dirinya. Dia pun sebisa mungkin berupaya mengunjungi jemaatnya untuk menghibur dan menunjukkan kasihnya yang besar kepada mereka. Sekiranya tauratMu tidak menjadi kegemaranku maka aku telah binasa dalam sengsaraku Mazmur 11992 “Belajar Menerima Kenyataan” Berita kematian Ayah membuat saya terpukul dan tidak berdaya. Ketika itu, saya 20 tahun mahasiswi semester 5 jurusan Farmasi, adik saya laki-laki berumur 18 tahun dan adik saya perempuan baru duduk di kelas 2 SD. ± sebulan Ayah melawan penyakitnya hingga 30 Desember 2013 Ayah menghembuskan nafas terakhirnya di RS. Ayah orang yang hebat tidak pernah ia mengeluh akan penyakitnya. Dan penuh tanggungjawab. Kepedihan yang sangat mendalam karena ditinggal oleh orang tercinta sungguh tak terlukiskan. Saya sangat kehilangan sosok seorang Ayah!”–Sary. Duka yang menyayat hati. Kematian orang tercinta adalah salah satu pengalaman paling menghancurkan yang dialami manusia. Adakalannya, duka itu sangat menyayat hati dan mungkin timbul perasaan antara lain terpukul, hampa, sedih, dan barangkali bahkan merasa bersalah atau marah. “Saya sangat kehilangan Ayah,” Kata Sulistyani, gadis kecil berusia 8 thn. Saya rindu pelukannya, candanya khasnya. Ia Ayah yang lembut. Ia senang memberi saya Uang saku ke sekolah setiap pagi sebelum Ayah berangkat ke Kantor. Saya tidak bisa melupakan Ayah. Apakah Anda juga pernah kehilangan orang tercinta, enta suami atau istri, anak, teman hidup, kakak atau adik, orang tua, saudara atau sahabat? Bagaimana Anda dapat mengatasi dukacita Anda?. Kebanyakan orang, tidak soal kebudayaan atau agama masing-masing, enggan membicarakan kematian. Untuk menghindari kesan yang tidak mengenakkan itu, beberapa bahasa menggunakan sejumlah ungkapan yang lebih halus. Dalam bahasa Indonesia, ketimbang mengatakan seseorang telah “mati”, orang akan mengatakan ia “sudah meninggal”, “berpulang”, atau “sudah mendahului kita”. Namun, ungkapan yang paling halus pun tidak bisa mengurangi kesedihan hebat yang dirasakan orang yang ditinggal mati oleh orang tercinta. Bagi beberapa orang, kepedihan itu begitu berat sehingga mereka tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi. Jika Anda ditinggal mati oleh orang tercinta, boleh jadi Anda pun berjuang untuk menerima kenyataan itu. Mungkin Anda bahkan berupaya tampak tegar, padahal hati Anda hancur. Memang, cara berduka setiap orang berbeda, maka jika Anda tidak terlihat berduka, itu bukan berarti Anda tidak terlihat sedih. Namun, problem bisa timbul jika Anda merasa wajib menyembunyikan perasaan dihadapan orang lain–barangkali anggota keluarga yang sedang berduka. Rumah terasa sepi tanda “dia”. Kesepian barangkali adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi mereka yang kehilangan orang tercinta. Wajarlah jika Anda merasa berat pulang kerumah setiap hari karena sadar bahwa orang yang kita cintai sudah tidak ada. Seringkali kita masuk ke kamar dan menangis sambil melihat fotonya dan mengenang hal-hal yang biasa dilakukan bersama-sama. Tidak soal Anda pedih karena kehilangan anggota keluarga atau teman karib, yakinlah bahwa Anda tidak sendirian. Namun, seperti yang kita lihat, banyak orang telah menemukan cara yang efektif untuk mengatasinya. Tetapi, bagaimana jika kepedihan Anda tak kunjung berakhir dan Anda menjadi letih karena putus asa? pengalaman Anda mirip dengan pengalaman Yakub, pria saleh yang kala diberitahu bahwa putranya Yusuf telah tewas, “tetap menolak untuk dihibur”. Kejadiaan 3735 Kalau begitu, langka praktis apa saja yang bisa Anda ambil agar tidak larut dalam dukacita? Berikut Tips yang bisa saya sering keteman-teman semua lewat pengalam pribadi saya. Perhatikan Diri Sendiri. Kadang, saya merasa sangat lelah dan sepertinya saya sudah tidak tahan lagi. Pernyataan menunjukkan bahwa kepedihan bisa sangat membebani secara fisik dan emosi. Maka Anda sebaiknya memperhatikan betul kesehatan Anda. Beristirahatlah yang cukup, dan santaplah makan yang bergizi. Memang Anda tidak berselera untuk makan, apalagi berbelanja atau memasak. Namun, jika Anda kurang makan Anda bisa gampang terkena penyakit, dan itu justru membuat Anda makin merana. Biarpun sedikit, berusahalah untuk makan secara teratur agar tetap sehat. Jika mungkin, lakukan sedikit gerak badan, meski hanya berjalan. Kegiatan fisik bisa membuat Anda keluar dari rumah. Selain itu, gerak badan yang memadai memicu pelepasan endorfin, senyawa kimia dalam otak yang bisa membuat Anda merasa lebih enak. Terimalah Bantuan dari Orang Lain. Dalam situasi seperti ini, saran dari teman-teman yang bertimbang rasa bisa sangat membantu Amsal 2511. Alkitab melukiskan teman sejati sebagai orang yang “dilahirkan untuk waktu kesesakan” Amsal 1717 Maka, jangan menyendiri karena berpikir bahwa Anda akan jadi bebab bagi orang lain. Sebaliknya, bergaul dengan orang lain bisa membantu Anda melewati masa-masa sulit ini. “Meski Sangat Sedih, Saya Mengambil Alkitab dan Membacanya, Walau Hanya Satu Ayat”–Sary. Jangan Menghapus Kenangan. Berusahalah untuk mengingat berbagai kenangan manis dengan orang tercinta, barangkali dengan membuka album foto. Memang, kenangan itu pada mulanya mungkin menyakitkan. Anda bisa membuat semacam catatan, didalanya anda bisa menulis tentang kenang-kenangan indah bahkan termasuk hal-hal yang ingin Anda katakan kepada orang yang Anda cintai seandainya ia masih menulis apa yang Anda rasakan, Anda bisa berfikir dengan lebih jernih. Menulis juga merupakan cara yang sehat untuk mengungkapkan berbagai perasaan Anda. Ada yang merasa menyimpan barang pribadi almarhum menghambat pemulihan. Yang lain menganggap sebaliknya. “Saya tetap menyimpan barang kepunyaan Ayah”–Sary. Itu cara yang baik untuk pulih!. Andalkan “Allah dalam Segala Penghiburan”. Berdoalah selalu, Doa bukan semacam tongkat penyangga emosi. Itu adalah komunikasi yang nyata dan vital dengan Allah segala penghiburan yang menghibur kita dalam semua kesengsaraan kita’ 2 Korintus 13;4. Firman Allah memberikan penghiburan terbesar bagi semua. Misalnya, saya terhibur dengan kata-kata Yesus kepada Marta setelah kematian Lazarus. Ia berkata kepadanya, Saudaramu akan bangkit’ Yohanes 11;23. Jangan Terus Terpuruk. Jangan merasa bersalah. Ini tidak berarti Anda menghianati orang tercinta dan melupakan dia. Faktanya, Anda takkan pernah melupakan orang yang Anda cintai. Pada saat-saat tertentu, kerinduan Anda mungkin terasa tak tertahankan, tetapi lambat-laun hal ini tidak akan begitu menyesakkan Anda lagi. Berbagai kenangan akan orang tercinta bisa menjadi sarana yang Anda butuhkan untuk terus menjalani kehidupan Anda. Setelah Ayah saya meninggal, kala itu saya bertekat harus menyelesaikan kuliah saya dan membantu Ibu untuk menjaga adik-adikku. Dan menjalani hidup seperti yang ia ajarkan kepada saya. Bagi Anda yang kehilangan orang tua, saya mau bilang Kita tidak akan pernah bisa pulih dari dukacita, tapi jangan terus terpuruk. Kita memang perlu meratap dan berduka, tapi jangan lupa bahwa kita harus menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, dan jangan pernah lupa bahwa kita punya Allah yang Dasyat yang sanggup mengubah dukacita menjadi sukacita. Halleluya…! Saya bangga punya Ayah yang hebat dan luar biasa bagi kami anak-anaknya. Walaupun terasa 44 tahun 5 bulan 18 hari begitu singkat bagi kami, namun satu hal yang membuat saya tidak merasa putus asa karena Tuhan masih memberikan saya Ibu dan Adik-adik yang begitu tegar bahkan punya keluarga dan saudara yang menghibur dan mendoakan kami. Sekarang sudah ± 2 tahun lebih Ayah pergi. Penghargaan terbaik yang bisa saya berikan bagi Ayah sekarang ini, saya sudah bisa menyelesaikan Kulia Sarjana saya dengan predikat yang sangat memuaskan Cum Laude’. Terimakasih Ayah buat suarlelah dan tanggungjawabmu. Kasih, Kehangatan dan Karyamu akan selalu kukenang. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejatera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 2911 Rumah bukan sekedar bangunan tempat tinggal. Bukan sekedar tempat bernaung dari panas dan hujan. Bagi sebuah keluarga, rumah adalah tempat yang istimewa. Rumah menjadi tempat ternyaman setelah seharian menguras banyak energi bekerja di kantor. Rumah menjadi tempat di mana cinta bersemi, tumbuh dan mekar diantara anggota keluarga. Bagi seorang anak, rumah orang tua adalah tempat penuh kasih sayang. Sehingga sejauh apapun seorang anak pergi, rumah orang tua selalu menjadi tempat yang dirindukan. Rumah menjadi tempat di mana hati dan cinta kita berada. Itu sebabnya ada ungkapan Home sweet home. Bagian pembacaan kita, Yohanes 141-3 merupakan kelanjutan percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya setelah Perjamuan Malam. Yesus meneguhkan hati para murid. “Janganlah gelisah hatimu”. Yesus memberi jaminan kekal “di rumah BapaKu banyak tempat tinggal, Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu”. Saudaraku, kata rumah yang dipakai adalah kata Yunani Monai, Mone tempat yang abadi, selamanya bukan sementara. Juga menunjuk pada sebuah keadaan “selamanya atau abadi bersama Tuhan”. Pernyataan Yesus tentang rumah baik sebagai tempat abadi ataupun keadaan kekal sungguh menghibur hati para murid yang sedang gentar dan gelisah saat salib Golgota dan kematian semakin dekat. Yesus menyadarkan para murid juga kita bahwa kematian bukanlah akhir segala sesuatu. Dari apa yang terbatas dan fana di dunia, masih ada yang mulia dan kekal yaitu Kristus yang berkuasa. Kita hanya perlu percaya. Janganlah gelisah tapi percaya meskipun kematian membawa dukacita. Jangan menjadi putus asa apalagi berpaling dari iman. Yesus menyertai kita dengan Roh Kudus yang menajdi penolong dan penghibur supaya kita menghadapi kematian orang terkasih kita dengan rela dan dengan rendah hati. Rela karena anak kekasih kita ini adalah milik Tuhan. Ia kembali kepada pemiliknya. Rendah hati karena hanya kehendak dan rencana Tuhan saja yang dapat menentukan batas kehidupan seseorang. Yang memberi nafas adalah Tuhan, dan yang mengambil juga adalah Tuhan Tuhan. Jadi bukan suanggi atau sesuatu yang lain. Yesus juga memberi janji bahwa kelak setiap orang percaya akan bertemu dengan-Nya dalam rumah Bapa. Inilah yang menjadi penghiburan bagi keluarga juga kita semua. Hari ini kita diperhadapkan dengan saat kematian Anak, Cucu, Saudara, ponakan, murid, teman sekolah, teman sekolah minggu dan sahabat kita. Kehilangan orang yang sangat kita sayangi memang bukan hal yang mudah untuk diterima. Kita merasa belum siap ketika almarhumah mendahului kita dalam usia yang masih muda. Dia masih sekolah, dia mestinya mengejar cita – citanya. Kita terkejut dan kaget karena almarhumah tidak menderita sakit yang lama. Keluarga berupaya karena mengharapkan ia sembuh. Tapi Tuhan menghendaki yang lain. Tuhan memanggilnya dari tengah – tengah cinta kedua orang tua dan kakak beradik serta keluarga besar bahkan dari kehidupan kita semua. Tuhan memanggilnya pulang ke rumah Bapa di Sorga. Hari ini kita akan melepaskan jenazahnya dari rumah duka ini dan memakamkannya. Kita mengimani, ia bersama dengan Kristus dalam “Rumah Bapa” yang kekal. Saat kita diliputi oleh dukacita mendalam karena kehilangan kita dihiburkan bahwa anak kekasih kita, menemukan kedamaian yang sejati dalam rumah Bapa. Rumah yang tidak terbuat dari pasir dan tanah sehingga menjadi rapuh dan fana, melainkan rumah yang dipenuhi kebenaran, kemuliaan dan cinta Allah. Ia tidak ada lagi dalam rumah keluarga orang tuanya tapi kebersamaan dengannya tetap dikenang sepanjang masa. Kita justru bersyukur Tuhan menghadirkannya dalam kehidupan keluarga ini. Nasihat Firman Tuhan ini, bukan hanya tentang kematian tapi juga kehidupan. Bukan hanya meneguhkan hati untuk menghadapi kematian, tetapi juga untuk menjalani kehidupan. Bukan saja soal di Sorga nanti tapi juga soal sekarang, ketika kita sedang menjalani hidup yang hanya sementara saja di dunia ini. Yesus mengingatkan para murid dan kita sekalian bahwa untuk menikmati kehidupan kekal dalam rumah Bapa di Sorga maka kita harus mengikut Yesus. Kita mesti tinggal di dalam Yesus. Karena hanya ada satu jalan kebenaran dan hidup yaitu Yesus. Kita tidak masuk rumah Bapa karena kebenaran kita. Dan tidak ada sesuatu di dunia ini yang bisa menjadi jaminan bagi kita untuk berada di Rumah Bapa. Jabatan, kekayaan, gelar, atau hal apapun di dunia ini, tidak bisa menjadi jamin. Kita dapat menikmati kehidupan kekal itu hanya karena anugerah Tuhan. Karena itu jangan hidup diluar anugerah Tuhan. Hargai dan jalani kehidupan ini di dalam Yesus. Jika kita ingin berjumpa Sang Bapa, maka hiduplah pada Jalan Kristus, bukan jalan kita masing – masing. Peganglah janji Firman Tuhan dan jaminan penyertaaan Tuhan. Tuhan tetap menyertai, menghibur dan melindungi. Anak kekasih kita telah pergi mendahului kita ke rumah Bapa tapi di dalam rumah keluarga ini dan rumah kita masing – masing, cinta Tuhan tetap ada. Tuhan memberkati kita dengan FirmanNya. Selamat Jalan sahabat dan kekasih kita. selamat berjumpa di Rumah Bapa yang kekal. Amin. Suka dan duka, susah dan senang menjadikan hidup penuh warna, penuh rasa dan penuh arti. Untuk menghadapi berbagai keadaan dalam hidup, Yakobus mendorong orang beriman supaya menjadikan pencobaan, tantangan dan pergumulan sebagai sarana bertumbuh dalam iman, berdoa untuk mendapat hikmat, dan tahan uji di segala situasi. Salah satu tantangan dan pergumulan yang tidak dapat kita hindari adalah kematian orang yang kita kasihi. Peristiwa kematian menantang kita untuk belajar menerima kehendak Tuhan walaupun kenyataan hidup berbeda dengan keinginan kita. Kematian memang menyebabkan perpisahan dan dukacita namun dukacita menantang kita untuk tahan uji dan bertekun dalam iman. Dukacita juga dapat menjadi sarana untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam hal iman kepada Allah, kasih kepada sesama juga dalam karya dan pelayanan kita setiap hari. Sebagai orang percaya, kita diajak untuk mengimani bahwa kematian ada dalam kuasa dan rencana Allah. Allah berdaulat baik atas kehidupan maupun kematian. Pembacaan Firman Tuhan ini menghibur dan menguatkan kita untuk bersyukur walaupun mengalami dukacita, untuk tetap berharap dan bergantung pada Allah meskipun ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi. Berkenan dengan pengucapan syukur atas kepergian orang terkasih kita maka Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak berputus asa melainkan hidup bersyukur dan melanjutkan teladan, kerajinan, kasih sayang serta ketekunan yang sudah dilakukan semasa hidup kekasih kita ini. Hendaknya keluarga dan kita semua yang ditinggalkan tapi juga yang bersyukur saat ini, memakai setiap keadaan termasuk dukacita sebagai sarana untuk bertumbuh. Belajarlah dari petatas ubi dan batu. Kita tahu batu dan petatas. Batu dan petatas sama – sama keras. Tapi jika kita merebus petatas dan batu dalam air mendidih. Batu tetap keras sedangkan petatas akan menjadi lembut dan enak dimakan. Ketika berbagai peristiwa hidup membawa kita seolah – olah masuk ke dalam panci air yang mendidih, seperti apakah hidup kita? Apakah kita mau dibentuk seperti petatas, meskipun sebelumnya keras tapi setelah direbus menjadi lembut, harum, nikmat untuk disantap? Apakah kita mau mengalami proses Tuhan untuk menjadi bijak dan matang, hangat dan ramah, tahan uji dan menjadi berkat? Ataukah kita tetap keras dan tidak mengalami perubahan apapun bahkan tetap tinggal dalam dosa seperti batu? Situasi buruk, ujian dan pencobaan justru menghasilkan kematangan iman. Itu adalah suatu kebahagiaan. Tapi Yakobus menegaskan bahwa berbagai – bagai pencobaan yang dimaksud bukanlah pencobaan – pencobaan yang terjadi karena kita melakukan dosa melainkan karena kita melakukan kehendak Tuhan. Orang beriman perlu kepekaan membedakan kehendak Tuhan dan kekuatan untuk melaksanakannya dengan taat. Mau dibentuk dalam ujian ataukah keraskan hati. Memang dalam dukacita dan situasi sedang dicobai, iman kita tergoncang. Surat Yakobus menasihatkan agar kita meminta hikmat Tuhan. Hikmat Tuhan akan menuntun kita untuk tetap fokus pada Tuhan. Jika kita focus pada Tuhan maka situasi apapun yang terjadi dalam hidup kita tidak menggoyahkan iman kita. Kita tetap bersyukur meskipun berduka. Kita tetap menaruh pengharapan kepada Allah sekalipun bersedih. Kita tetap percaya pemeliharaan Allah meskipun orang terkasih kita tidak lagi bersama kita. Fokus kepada Tuhan memampukan kita untuk melihat dan mengalami kebaikan – kebaikan Tuhan di tengah peristiwa tak menyenangkan dalam hidup. Saat kita fokus kepada Tuhan maka kita memiliki sikap pemenang. Ketika berhadapan dengan masalah besar kita tidak berkata “Tuhan, saya sedang mengalami masalah besar”. Tapi kita berkata “Hey, masalah besar, saya punya Tuhan yang lebih besar”. Yakobus katakan “berbahagialah kamu jika mengalami pencobaan” dan itu menghasilkan iman yang tekun dan tahan uji. Selamat bersyukur meskipun berduka. Tuhan memberkati Berapa tahun lalu, sementara menghadiri pertemuan di Salt Lake City, saya disambut oleh nabi terkasih kita, Russell M. Nelson. Dengan cara khasnya yang hangat dan bersifat pribadi, dia bertanya, “Mark, bagaimana kabar ibu Anda?” Saya memberi tahu dia bahwa saya telah berada bersamanya awal minggu itu di rumahnya di Selandia Baru dan bahwa dia mulai uzur tetapi penuh iman dan menjadi inspirasi bagi semua yang mengenalnya. Dia kemudian berkata, “Mohon sampaikan kasih saya baginya … dan beri tahu dia saya menantikan kesempatan bertemu dia lagi.” Saya agak terkejut dan bertanya, “Apakah Anda ada rencana perjalanan ke Selandia Baru dalam waktu dekat?” Dengan ketulusan yang dalam dia menjawab, “Oh bukan, saya akan menemuinya di kehidupan berikutnya.” Tidak ada yang sembrono dalam tanggapannya. Itu merupakan pernyataan fakta yang sangat alami. Di momen yang bersifat pribadi dan apa adanya itu, saya mendengar dan merasakan kesaksian murni dari seorang nabi yang hidup bahwa kehidupan berlanjut setelah kematian. Akhir pekan konferensi ini, Anda akan mendengar para rasul dan nabi yang hidup bersaksi tentang Kebangkitan Yesus Kristus. “Asas-asas dasar dari agama kita adalah kesaksian para Rasul dan Nabi, mengenai Yesus Kristus, bahwa Dia telah mati, dikuburkan, dan bangkit kembali pada hari ketiga, … semua hal lainnya yang berkaitan dengan agama kita hanyalah merupakan tambahan terhadap [kebenaran ini].”1 Saya berjanji bahwa sewaktu Anda mendengarkan dengan niat yang sungguh-sungguh, Roh akan menegaskan dalam benak Anda dan hati Anda kebenaran dari kesaksian-kesaksian Para Rasul Yesus zaman dahulu selamanya diubah setelah Dia menampakkan diri kepada mereka setelah kematian-Nya. Sepuluh di antara mereka melihat sendiri bahwa Dia telah dibangkitkan. Tomas, yang awalnya tidak hadir, menyatakan, “Sebelum aku melihat … aku tidak akan percaya.”3 Setelahnya Yesus menegur Tomas, “Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”4 Kemudian Tuhan mengajarkan peran vital dari iman “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”5 Tuhan yang dibangkitkan memberi para Rasul-Nya tugas tanggung jawab untuk bersaksi mengenai Dia. Seperti para Rasul kita yang hidup dewasa ini, mereka meninggalkan pekerjaan duniawi dan menghabiskan sisa hidup mereka dengan berani memaklumkan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus ini. Kesaksian kuat mereka menuntun kepada ribuan orang yang menerima undangan untuk Pesan agung dari pagi Paskah adalah sentral bagi seluruh ranah Kristiani. Yesus Kristus dibangkitkan dari antara yang mati, dan karena ini, kita pun akan hidup kembali setelah kita mati. Pengetahuan ini memberikan makna dan tujuan bagi kehidupan kita. Jika kita terus maju dalam iman, kita akan selamanya diubah, seperti adanya para Rasul zaman dahulu. Kita, seperti mereka, akan dapat menanggung kesukaran apa pun dengan iman kepada Yesus Kristus. Iman ini juga memberi kita pengharapan untuk suatu saat ketika “dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.”7 Iman saya sendiri berawal setelah suatu masa duka. Ayah dan ibu saya adalah peternak domba di Selandia Mereka menikmati hidup mereka. Sebagai pasangan suami istri muda, mereka diberkati dengan tiga gadis kecil. Yang bungsu di antaranya bernama Ann. Pada suatu hari ketika mereka berlibur bersama dekat sebuah danau, Ann yang berusia 17 bulan berkeliaran bertatih-tatih. Setelah putus asa mencari selama beberapa menit, dia ditemukan sudah tak bernyawa dalam air. Mimpi buruk ini menyebabkan duka yang tidak terucapkan. Ayah menulis bertahun-tahun kemudian bahwa sejumlah gelak tawa lenyap dari kehidupan mereka selamanya. Itu juga menyebabkan suatu kerinduan akan jawaban terhadap pertanyaan kehidupan yang paling penting “Apa yang akan terjadi dengan Ann kami tercinta? Apakah kami akan pernah melihatnya lagi? Bagaimana keluarga kami akan dapat bahagia lagi?” Beberapa tahun setelah tragedi ini, dua misionaris muda dari Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir datang ke tanah pertanian kami. Mereka mulai mengajarkan kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam Kitab Mormon dan Alkitab. Kebenaran-kebenaran ini mencakup jaminan bahwa Ann sekarang hidup di dunia roh. Karena Kebangkitan Yesus Kristus, dia pun akan dibangkitkan. Mereka mengajarkan bahwa Gereja Yesus Kristus telah sekali lagi dipulihkan di atas bumi dengan seorang nabi yang hidup dan dua belas orang Rasul. Dan mereka mengajarkan doktrin yang unik dan luar biasa bahwa keluarga dapat diikat bersama selamanya melalui wewenang imamat yang sama yang Yesus Kristus berikan kepada kepala Rasul-Nya, Ibu serta-merta mengenali kebenaran dan menerima kesaksian dari Roh. Namun, ayah bergumul selama setahun berikutnya antara keraguan dan sentuhan-sentuhan rohani. Juga, dia enggan mengubah cara hidupnya. Suatu pagi setelah malam tanpa tidur, sementara berjalan mondar-mandir, dia menoleh kepada Ibu dan berkata, “Saya akan dibaptiskan hari ini atau selamanya tidak.” Ibu memberi tahu misionaris apa yang terjadi, dan mereka segera mengenali kerlipan iman dalam diri ayah saya yang saat itu akan apakah menyala atau padam. Pagi itu juga keluarga kami melakukan perjalanan ke pantai terdekat. Tidak sadar apa yang terjadi, kami anak-anak mengadakan piknik di bukit-bukit pasir sementara Elder Boyd Green dan Elder Gary Sheffield menuntun orangtua saya ke laut dan membaptiskan mereka. Dalam tindakan iman selanjutnya, Ayah secara pribadi berkomitmen kepada Tuhan bahwa apa pun yang terjadi, dia akan setia sepanjang hidupnya terhadap janji-janji yang sedang dibuatnya. Satu tahun kemudian bait suci didedikasikan di Hamilton, Selandia Baru. Tidak lama setelahnya keluarga kami, dengan seseorang mewakili Ann, berlutut di sekeliling altar di rumah Tuhan yang sakral itu. Di sana, dengan wewenang imamat, kami dipersatukan sebagai keluarga kekal dalam tata cara yang sederhana namun indah. Ini mendatangkan kedamaian dan sukacita besar. Bertahun-tahun kemudian, Ayah memberi tahu saya bahwa jika bukan karena kematian tragis Ann, dia tidak akan pernah cukup rendah hati untuk menerima Injil yang dipulihkan. Namun Roh Tuhan telah menanamkan pengharapan bahwa apa yang misionaris ajarkan adalah benar. Iman orangtua saya terus tumbuh sampai mereka masing-masing membara dengan api kesaksian yang dengan tenang dan rendah hati membimbing setiap keputusan mereka dalam hidup. Saya akan senantiasa bersyukur atas teladan orangtua saya bagi generasi-generasi mendatang. Tidaklah mungkin untuk mengukur jumlah kehidupan yang selamanya diubah karena tindakan iman mereka dalam tanggapan terhadap dukacita yang mendalam. Saya mengajak semua yang merasakan duka, semua yang bergumul dengan keraguan, semua yang bertanya-tanya apa yang terjadi setelah kita meninggal, untuk menempatkan iman Anda kepada Kristus. Saya berjanji bahwa jika Anda berhasrat untuk percaya, kemudian bertindak dalam iman dan mengikuti bisikan Roh, Anda akan menemukan sukacita di kehidupan ini dan di dunia yang akan datang. Betapa saya menanti-nantikan hari saya akan bertemu kakak saya, Ann. Saya menanti-nantikan reuni penuh sukacita dengan ayah saya, yang meninggal lebih dari 30 tahun lalu. Saya bersaksi akan sukacita yang ditemukan dalam hidup dengan iman, percaya tanpa melihat, tetapi mengetahui melalui kuasa Roh Kudus bahwa Yesus Kristus hidup. Dengan segenap hati dan jiwa saya, saya memilih untuk mengikuti Yesus Kristus dan Injil-Nya yang dipulihkan. Ini memberkati setiap aspek hidup saya. Saya tahu bahwa Yesus adalah Kristus, Putra Allah, Juruselamat dan Penebus kita. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

khotbah dukacita kematian seorang ayah