Budiutomo yatu organisasi nasional pertama di indonesia, dikarenakan ada nilai-nilai yang sudah dipandang sebagai bibit pergerakan nasional ini yaitu adanya penyadaran tentang pendidikan dan budaya. Dr. Wahidin Sudirohusodo (1857-1917) merupakan pembangkit semangat organisasi Budi Utomo. Cobalakukan pelacakan kemudian buatlah uraian tentang pengaruh pendidikan pada kaum Pribumi di Hindia Belanda dalam Gagasan Wahidin akhirnya terwujud ketika para Gunawan atas rintisan Wahidin Sudirohusodo pada tanggal 20 Mei 1908. Tujuannya untuk mengumpulkan dana guna membantu kaum bumiputera yang kekurangan dalam menempuh sebuahteori atau kajian mengenai seni itu sendiri. Menurut Sumanto (2006: 5) seni dapat diartikan sebagai berikut: Seni adalah hasil atau proses kerja dan gagasan manusia yang melibatkan kemampuan terampil, kreatif, kepekaan indera, kepekaan hati dan pikir untuk menghasilkan suatu karya yang memiliki kesan indah, selaras, bernilai seni, Beliaulahir di Nganjuk, Jawa Timur pada 30 Juli 1888. Sutomo adalah seorang dokter yang juga aktif di bidang politik. Sutomo adalah pendiri dari organisasi Budi Utomo, usai mendapatkan saran dari Wahidin Sudirohusodo, Beliau kemudian mendirikan Budi Utomo sebagai perkumpulan atau organisasi pelajar. Mungkinkah banyak yang sedang mencari jawaban dari pertanyaan: 1.Tindakan saat ini yang tidak sesuai dengan gagasan Wahidin Sudirohusodo tentang pendidikan adalah karyatulis ilmiah itu sendiri. Pemahaman tersebut mencakup pemahaman tentang pengertian, jenis, manfaat, tujuan, dan ciri umum suatu karya tulis ilmiah. Dengan mengetahui dan memahami pengertian dan jenis-jenis karya tulis ilmiah secara mendalam dan rinci, Anda akan memiliki pemahaman yang utuh dan padu mengenai hakikat karya tulis ilmiah. CuaEUM. Tindakan masa kini yang sesuai dengan gagasan Dr. Wahidin Sudirohusodo tentang pendidikan adalah? bagi Ihsan, pendidikan akan membantunya keluar dari kemiskinan sehingga ia selalu belajar dengan serius di sekolah Fatha ingin sekolah yang tinggi agar menjadi seorang karyawan di perusahaan terkenal Rhadif merasa sangat sedih ketika melihat temannya putus sekolah karena tidak ada biaya Fauzan senantiasa membantu temannya yang kesulitan belajar di sekolah Semua jawaban benar Jawaban yang benar adalah A. bagi Ihsan, pendidikan akan membantunya keluar dari kemiskinan sehingga ia selalu belajar dengan serius di sekolah. Dilansir dari Ensiklopedia, tindakan masa kini yang sesuai dengan gagasan dr. wahidin sudirohusodo tentang pendidikan adalah bagi Ihsan, pendidikan akan membantunya keluar dari kemiskinan sehingga ia selalu belajar dengan serius di sekolah. [irp] Pembahasan dan Penjelasan Menurut saya jawaban A. bagi Ihsan, pendidikan akan membantunya keluar dari kemiskinan sehingga ia selalu belajar dengan serius di sekolah adalah jawaban yang paling benar, bisa dibuktikan dari buku bacaan dan informasi yang ada di google. Menurut saya jawaban B. Fatha ingin sekolah yang tinggi agar menjadi seorang karyawan di perusahaan terkenal adalah jawaban yang kurang tepat, karena sudah terlihat jelas antara pertanyaan dan jawaban tidak nyambung sama sekali. [irp] Menurut saya jawaban C. Rhadif merasa sangat sedih ketika melihat temannya putus sekolah karena tidak ada biaya adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut lebih tepat kalau dipakai untuk pertanyaan lain. Menurut saya jawaban D. Fauzan senantiasa membantu temannya yang kesulitan belajar di sekolah adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut sudah melenceng dari apa yang ditanyakan. [irp] Menurut saya jawaban E. Semua jawaban benar adalah jawaban salah, karena setelah saya coba cari di google, jawaban ini lebih cocok untuk pertanyaan lain. Kesimpulan Dari penjelasan dan pembahasan serta pilihan diatas, saya bisa menyimpulkan bahwa jawaban yang paling benar adalah A. bagi Ihsan, pendidikan akan membantunya keluar dari kemiskinan sehingga ia selalu belajar dengan serius di sekolah. [irp] Jika anda masih punya pertanyaan lain atau ingin menanyakan sesuatu bisa tulis di kolom kometar dibawah. Di suatu hari yang tenang, tiba-tiba dokter Wahidin dikejutkan kedatangan pembantu salah satu tetangganya di Desa Gelaran, Gunung Kidul, Yogyakarta. Pembantu itu berjalan tergopoh dan menghampirinya. Ternyata pembantu itu mengadukan pertengkaran suami-istri, majikannya. Ia khawatir pertengkaran itu bisa meledak menjadi tindak laporan itu, Wahidin bergegas menuju rumah tetangganya. Ia memutar otak sebelum menghampiri tetangganya yang tengah bertengkar. Setelah mendapat ide yang pas, Wahidin ke luar menuju rumah tetangganya yang letaknya tidak terlalu tak langsung begitu saja masuk ke dalam rumah itu. Wahidin terlebih dahulu mengambil rute jalan memutar. Seolah-olah, ia terlihat baru pulang bepergian dan melintas di depan rumah tetangganya yang pintunya terbuka. Pasangan suami-istri itu pun langsung menghentikan cekcok mulut ketika sosok pria berpakaian sorjan dan blangkon itu persis melintas di depan pintu rumah mereka. “Wah, tumben Pak Dokter sampai sini?” sapa si suami pemilik rumah sembari tersenyum.“Oh, kebetulan saya dari jalan-jalan,” jawab Wahidin membalas senyuman. Setelah itu ia langsung berseloroh, “Sebenarnya saya ingin mencari kawan bermain pei semacam permainan kartu,” ucapnya lagi.“Sejak kemarin saya iseng jalan-jalan, tetapi tidak bertemu kawan main. Jadi, ayo kita main bersama, ajak juga istrimu,” pinta Wahidin lagi. Mau tak mau, pasangan suami-istri tersebut meladeni permintaan lalu bermain kartu pei sambil minum kopi. Di tengah permainan, Wahidin sangat lihai memancing obrolan dan pertanyaan kepada kedua tetangganya itu. Akhirnya mereka mengaku tengah bertengkar mengenai suatu masalah pelik. Wahidin dengan seksama mendengarkan pengakuan dari kedua tetangganya paham betul masalah yang tengah dihadapi mereka, Wahidin tersenyum, lalu ia mencarikan solusi sekaligus memberikan wejangan terhadap masalah yang dihadapi mereka. Mendengarkan nasehat, mereka pun lega menemukan jalan keluarnya. Permainan kartu pei pun berakhir dengan senyuman. Wahidin berhasil merukunkan kembali pasutri lainnya, ketika Wahidin mendapat curhatan seorang pemuda bernama Jayengkarsa yang bingung dipaksa menikah oleh orang tuanya. Jayengkarsa dan teman-temannya menghadap Wahidin, yang dianggap sebagai orang tua bijak di Yogyakarta itu. Wahidin tak secara langsung memberi petunjuk kepada malah bercerita soal cerita berbagai pengalaman orang dalam berumah tangga. Ada yang bernasib baik dan ada yang buruk. Dalam berumah tangga, menurut Wahidin kepada mereka, perlu bekal. Baik itu bekal ilmu, harta dan sebagainya. Tak lupa Wahidin menambahkan bahwa setiap orang, khususnya pemuda mempunyai kewajiban terhadap bangsa yang masih keterangan Wahidin yang panjang lebar itu, Jayengkarsa dan teman-temannya akhirnya menyimpulkan sendiri jawabannya. Jayengkarsa sadar bahwa dirinya belum berbuat banyak untuk masyarakat. Karena itu, dia memutuskan untuk menolak menikah, karena ingin berjuang untuk masyarakat terlebih dahulu. Dua kisah di atas merupakan sisi lain kehidupan tokoh pelopor semangat yang mengilhami berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang detikX cuplik dari buku Wahidin Soedirohoesodo, Sang Dokter Bangsa’ tulisan Yayan Rika Harari yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2018.Meskipun pria kelahiran Desa Mlati, Sleman, Yogyakarta tanggal 7 Januari 1852 ini bukan termasuk pendiri Budi Utomo, namun, beberapa tahun sebelum kelahiran organisasi tersebut, Wahidin dengan gigih berkeliling Jawa menyebarkan gagasan memajukan pendidikan. Wahidin wafat pada 26 Mei 1917, tapi gagasan yang ditinggalkannya sangat berharga bagi bangsa Indonesia, termasuk sejumlah organisasi pemuda mendeklarasikan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.“Saya terkejut dan tertarik dengan perangai dan pikiran dokter tua ini… Saya berhadapan dengan Dokter Wahidin Soedirohoesodo yang berwajah tenang tapi tajam dan kepandaiannya mengeluarkan pikiran sangat berkesan pada saya. Suaranya yang jelas dan tenang membuka pikiran dan hati saya, membawa saya pada gagasan-gagasan baru dan membuka dunia baru yang meliputi jiwa saya yang terluka dan sakit,” ucap Dr. Soetomo dalam bukunya berjudul Kenang-kenangan Beberapa Kisah Penghidupan Orang yang Bersangkutan dengan Hidup Saya’ terbitan Sudirohusodo adalah putra Arjo Sudiro atau yang dikenal dengan panggilan Mbah Kruwis’, seorang petani kaya raya pada jamannya. Tapi Arjo tak pernah memanjakan anak-anaknya dengan kemewahan, termasuk Wahidin. Sejak kecil, Wahidin sering diajak ayahnya jalan-jalan keliling melihat kondisi di desanya, khususnya tetangga yang tengah dari buku Sejarah Pemikiran Indonesia Sampai dengan Tahun 1945’ yang disusun dan diterbitkan Direktorat Nilai Sejarah, Dirjen Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 2006, Arjo menamkan benih-benih rasa perikemanusian dan pentingnya pendidikan kepada anak-anaknya. Umur tujuh tahun Wahidin disekolahkan di Sekolah Angka Dua Sekolah Ongko Lora. Terus dilanjutkan ke Lagere School, yaitu Sekolah Rakjat berbahasa Belanda di sekolah di Tweede Europese School melanjutkan pendidikannya di Sekolah Dokter Jawa, yang pada tahun 1902 berganti nama menjadi School tot Opleiding vor Indlandsche Arisen STOVIA di Batavia. Karena kecerdasannya, ia diangkat menjadi Asistent Leerar asisten dosen dan dikenal panggilan Dokter Mas Ngabehi dengan ayahnya, Wahidin berjuang meningkatkan derajat rakyat Indonesia dari keterbelakangan dan kemelaratan melalui pendidikan. Menurutnya ada dua hal penting yang perlu dilakukan dalam perjuangan, yaitu memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepada rakyat dan memperdalam kesadaran nasional. Dengan adanyakesadaran nasional maka perasaan cintaterhadap bangsa akan tumbuh subur, sehingga akan tumbuh pula perasaan tanggungjawab terhadap rakyat danbangsanya. Pada tahun 1890-an, Wahidin menerbitkan majalah bernama Retno Doemilah’. Majalah ini terbit dua kali dalam seminggu dan terbit dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu Indonesia. Hebatnya, majalah ini sampai memiliki agen penjualan di Elsbach St Quentin, Paris. Melalui majalahnya itu, Wahidin menyadarkan rakyat tentang pentingnya pendidikan. Selain itu, Wahidin juga menerbitkan majalah Goeroe Desa’.Selain itu, Wahidin membuat beasiswa studiefonds bagi anak-anak desa yang cerdas untuk bersekolah. Dana awal beasiswa studiefonds berasal dari keuangan Wahidin sendiri, baru kemudian dana studiefonds diambil dari potongan gaji pegawai negeri. Pada tahun 1895, Wahidin pernah pula mendirikan pabrik sabun secara untuk memperkenalkan cara hidup mandiri dan ekonomis. Dengan membuat sabun sendiri paling tidak kita dapat memenuhi salah satu kebutuhan penting tanpa bergantung kepada orang lain. Tentu saja akan lebih hemat membuat sabun sendiri daripada membeli. Tetapi sayang usaha pembuatan sabun ini tidak bertahan lama, karena kemudian pabrik ini pun merupakan sosok ayah yang bijaksana, lembut, dan mementingkan pendidikan. Namun, ia membebaskan putra-putranya dalam memilih pendidikannya. Dia tidak mengharuskan putra-putranya mengikuti jejaknya menjadi dokter. Yang penting adalah mereka harus Dokter Wahidin itu tak hanya dirasakan oleh anak-anaknya sendiri. Anak-anak di desanya juga merasakan kebaikannya. Salah satunya adalah anak yang bernama Mulyotaruno. Anak itu sering bermain ke rumah Wahidin. Dia sangat akrab dengan keluarga Wahidin dan kemudian diangkat sebagai kemudian disekolahkan ke Kweekschool Muntilan. Kweekschool adalah sekolah khusus untuk menjadi guru. Mulyotaruno yang hanya lulusan sekolah rakyat merasa beruntung. Tanpa dorongan dan bantuan keluarga Wahidin, dia mungkin tidak akan bisa melanjutkan sekolahnya. Kemudian, karena pandai, setelah tamat dari Kweekschool, dia melanjutkan ke STOVIA hingga lulus menjadi dengan berbagai cara, Dokter Wahidin berusaha meningkatkan pendidikan bagi bangsanya. Dia tidak segan-segan berkorban dan membantu orang-orang disekitarnya agar mereka mendapatkan pendidikan. Wahidin Sudirohusodo Foto Porosilmu – Dengan gagasan, “untuk mewujudkan masyarakat yang maju, pendidikan harus diperluas,” dr. Wahidin Sudirohusodo berkeliling ke seluruh Pulau Jawa pada 1906 dan 1907. Wahidin juga berpendapat, pendidikan dapat dilaksanakan dengan usaha sendiri, tanpa bergantung kepada pemerintah kolonial. Tokoh yang mengawali lahirnya pergerakan nasional ini lahir tahun 1852 di Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan nama Waidhien. Ayahnya seorang penggawa sultan. Pernikahan kakak perempuannya dengan Frits Kohle, seorang administrator perkebunan gula di Sragen, membuka akses pendidikan baginya. Wahidin tercatat sebagai anak pribumi pertama yang diterima di Sekolah Dasar Anak Eropa Europesche Lagere School, ELS. Lewat sekolah dokter untuk kaum bumiputra atau School tot Opleiding van Indische Artsen STOVIA, Wahidin kemudian menjadi dokter Jawa. Selama hampir 30 tahun menjadi dokter, Wahidin menjadi dokter rakyat yang welas asih. Namun, ia juga menjadi dokter di lingkungan keraton Pakualam sehingga kehidupannya serba berkecukupan. Wahidin juga memiliki kemampuan inovasi tinggi. Ia sempat mendirikan pabrik sabun. Namun, pada 1899, ia mundur dari profesi dokter. Pabrik sabun ia jual. Meski hidup dalam kenyamanan, Wahidin merasa gelisah dengan nasib bangsanya. Pada usia paruh baya dan sakit-sakitan itu, didorong oleh rasa cintanya yang mendalam terhadap bangsanya, Wahidin mulai berjuang untuk mewujudkan impiannya, yaitu pendidikan seluas-luasnya bagi bumiputra. Pada 1901, Wahidin menjadi redaktur surat kabar Retnodhoemilah untuk meluaskan propaganda tentang perlunya memberantas kemiskinan melalui pendidikan dan persatuan. Wahidin sering menumpahkan pikiran-pikirannya melalui majalah berbahasa Jawa dan Melayu itu. Tak heran, banyak yang menyebut Wahidin sebagai jurnalis pribumi pertama. Wahidin sangat dipengaruhi oleh dua peristiwa kebangkitan gerakan Turki Muda dan pergerakan nasionalis Tiongkok. Di Hindia Belanda saat itu, orang Tionghoa dan Arab sudah mendirikan organisasi lebih duluan. Orang Tionghoa mendirikan Tiong Hoa Hwee Koan THHK pada 1900, sedangkan orang Arab mendirikan Sumatra Batavia Alkhairah 1902 dan Jamiatul Khair 1904. Sedangkan orang-orang sebangsanya, orang-orang Jawa, masih tertidur pulas saat itu. Wahidin mundur dari profesi dokter karena merasa pekerjaannya sebagai dokter tak begitu berguna bagi kemajuan bangsanya. Perjuangan lewat pena semata ternyata juga tak cukup untuk membangkitkan kesadaran bangsanya. Sebab itu, pada 1906, Wahidin memutuskan keliling Jawa untuk mengunjungi bupati-bupati dan para bangsawan. Biaya perjalanan ia ambil dari tabungannya selama 30 tahun. Melalui program “dana pelajar”, Wahidin meminta kepada para pembesar Jawa untuk memberikan beasiswa bagi pemuda yang putus sekolah. Pada kenyataannya, mereka itu susah diharapkan. Namun, Wahidin terus mempropagandakan ide-idenya mengenai pentingnya pendidikan bagi bumiputra. Perjalanannya mengunjungi puluhan bupati dan residen tidak mudah. Sekali waktu, demi meyakinkan seorang residen memberi beasiswa, Wahidin bersedia berjalan sambil berjongkok dan rela duduk di lantai. Militansi Wahidin Sudirohusodo ini yang pada tahun 1908 menginspirasi Soetomo, salah seorang siswa STOVIA. Pertemuan dengan pensiunan dokter itu pada 1906 sangat berkesan bagi Soetomo. Ia kemudian mendirikan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Tak hanya Soetomo, pidato yang dibawakan Wahidin di STOVIA juga menginspirasi seorang pemuda bernama Tirto Adhi Soerjo. Tirto bahkan bergerak lebih duluan dibanding Soetomo. Pada tahun 1906, Ia mendirikan organisasi bernama “Sarekat Priyayi”. Dengan demikian, Wahidin Sudirohusodo merupakan sosok yang pertama kali mendorong lahirnya organisasi-organisasi modern di Indonesia. * Diolah dari berbagai sumber. dr. Wahidin Sudirohusodo, Perintis Kebangkitan Nasional Indonesia 06/09/2020Wahidin Sudirohusodo lahir pada 7 Januari 1852 di Mlati, Sleman, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kedua orangtuanya memberikan nama lengkap Mas Ngabehi Wahidin Soedirohoesodo. Menurut biografi yang disusun Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1992, ayah Wahidin adalah seorang ronggo bagian dari struktur pemerintahan Hindia Belanda, sekarang kira-kira setingkat dengan Camat yang berasal dari daerah Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah. Beliau merupakan salah satu bumiputera pertama yang diterima di ELS atau Europeesche Lagere School. ELS dikenal sebagai Sekolah Rendah Eropa diperuntukkan untuk keturunan peranakan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka. Pada 1869 beliau meneruskan studinya ke Sekolah Dokter Djawa di Batavia Jakarta. Sekolah Dokter Djawa sendiri adalah cikal-bakal sekolah pendidikan dokter bumiputera STOVIA School tot Opleiding van Indische Artsen. Beliau lulus pada 1872, kemudian diangkat menjadi asisten pengajar di STOVIA. Seiring berjalannya waktu, sekolah kedokteran tersebut kini telah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia FKUI. Beliau kemudian kembali ke Yogyakarta dan bekerja sebagai dokter. Beliau sangat merakyat sehingga banyak mengetahui penderitaan, ketertindasan, dan keterbelakangan rakyat sebagai akibat dari penjajahan. Beliau sering membebaskan rakyat dari biaya pengobatan. Untuk membebaskan rakyat dari ketertindasan dan keterbelakangan hanya bisa dilakukan melalui pendidikan. Beliau pun melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa untuk mencari dana yang akan diberikan kepada anak-anak cerdas sebagai beasiswa yang dikenal dengan Studiefonds atau "dana belajar". Ide-idenya gagasannya dituangkan pula melalui majalah berbahasa Jawa, Retno Doemilah. Namun, ajakannya tersebut tidak mendapat tanggapan seperti yang diharapkan dari masyarakat. Pada waktu mengunjungi STOVIA, Wahidin Sudirohusodo kembali mengemukakan pemikirannya. Kali ini idenya mendapat sambutan baik dari para pelajar STOVIA. Mereka sepakat bahwa ketertindasan dan keterbelakangan rakyat bisa diatasi dengan pendidikan. Gagasan-gagasan Wahidin Sudirohusodo kemudian diwujudkan oleh dan kawan-kawan dengan mendirikan organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Selain menyebarkan gagasan kebangsaan, Dr Wahidin juga memberi perhatian pada kesadaran kesehatan di tengah masyarakat. Beliau menerbitkan majalah Guru Desa yang menerangkan pentingnya kesehatan. Tujuannya adalah untuk melawan kepercayaan terhadap dukun dan tahayul yang masih banyak dipercayai rakyat kala Sudirohusodo wafat pada 26 Mei 1917 di Yogyakarta dan dimakamkan di Mlati, Sleman, Yogyakarta. Pada 6 November 1973, berdasarkan Keppres pemerintah menobatkan Sudirohusodo sebagai pahlawan nasional. Nama beliau juga diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat Provinsi RSUP di Makassar, Sulawesi Selatan. Ilustrasi Perjuangan Bangsa Indonesia setelah Tahun 1908 Sumber Unsplash/Susan Q YinBangsa Indonesia memiliki sejarah dijajah oleh bangsa asing dalam waktu yang sangat lama. Bangsa Indonesia sejak dahulu sudah melakukan perlawanan, namun setelah tahun 1908 ada yang berbeda dengan perjuangan bangsa. Jelaskan perjuangan bangsa Indonesia setelah tahun 1908!Perjuangan bangsa Indonesia setelah tahun 1908 disebut sebagai Kebangkitan Nasional. Kebangkitan Nasional menjadi momen penting dalam perjuangan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia setelah Tahun 1908Ilustrasi Perjuangan Bangsa Indonesia setelah Tahun 1908 Sumber Unsplash/Inaki Del OlmoJelaskan perjuangan bangsa Indonesia setelah tahun 1908! Dikutip dari Super Complete SMP/MTs 7, 8, 9, Tim Guru Kreatif 2019723-724, Kebangkitan Nasional merupakan periode yang terjadi pada paruh pertama abad ke-20. Pada saat itu, sudah banyak rakyat Indonesia yang menumbuhkan rasa kesadaran Indonesia memiliki perasaan senasib sebagai bangsa sehingga meningkatkan rasa persatuan. Kebangkitan Nasional adalah momen pergerakan perjuangan bangsa Indonesia yang mulai menyadari kondisi dan potensi sebagai suatu Nasional dimulai dengan kelahiran Budi Utomo di tahun 1908. Perjuangan bangsa Indonesia setelah tahun 1908 dilakukan demi kepentingan nasional, bukan hanya kepentingan daerah saja. Perjuangan ini tidak lepas dari pengorbanan para tokoh pahlawan yang mempelopori Kebangkitan Nasional seperti1. Wahidin SudirohusodoWahidin Sudirohusodo merupakan tokoh pencetus ide lahirnya Budi Utomo pada 1908. Beliau lahir di Mlati, Sleman, Yogyakarta pada 7 Januari 1852. Sejak tahun 1906 sampai 1907, beliau giat melakukan perjalanan untuk mengumpulkan dana pendidikan untuk penduduk bertemu Sutomo, organisasi Budi Utomo lahir pada 20 Mei 1908 dari gagasan mereka. Organisasi Budi Utomo menjadi pencetus bangkitnya kesadaran nasional bangsa Indonesia. Oleh karena itu, tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional sampai saat dr. SutomoDokter Sutomo lahir pada tanggal 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Jawa Timur. Saat belajar di STOVIA, beliau terkesan oleh saran Wahidin untuk memajukan pendidikan untuk jalan membebaskan bangsa dari penjajahan. Pada 20 Mei 1908, Budi Utomo lahir dan Sutomo ditunjuk sebagai dr. Cipto MangunkusumoDokter Cipto Mangunkusumo lahir di Desa Pecangakan, Jepara. Sejak masih bersekolah di STOVIA, beliau sudah membuat tulisan mengkritik Belanda di harian De Locomotief dan Bataviaasch. Beliau membuka praktek dokter di Solo dan mendirikan Kartini Klub dengan tujuan memperbaiki nasib perjuangan bangsa Indonesia setelah tahun 1908! Pada masa itu rakyat Indonesia mulai berjuang demi kepentingan nasional, bukan kepentingan daerah. KRIS

gagasan wahidin sudirohusodo tentang pendidikan